Jumat, 15 November 2013
PUISI CINTA REMAJA
CARAKU MENCINTAIMU
Oleh Edi_Sientong
Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu,
dan bahkan sekedar chatting untuk menyapamu,
aku mencintaimu dengan menjauh darimu,
bukan karena aku membencimu,
Namun karena aku ingin menjagamu dan menjaga diriku sendiri dari khalwat yang menjebak,
aku mencintaimu dengan menjaga diriku dan dirimu,
menjaga kesucianku dan kesucianmu,
menjaga kehormatanku dan kehormatanmu,...
menjaga kebeningan hatiku dan hatimu,
Ya......
Beginilah caraku mencintaimu,
mencintaimu dalam diamku,
karena diamku adalah bukti cintaku padamu..
Dan sekarang,
keadaan menegurku,
sehingga dapat membantu menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat,
meskipun pesonamu terhadapku belum pulih,
belum pulih..
Aku tak bisa memungkiri,
bahwa setiap manusia pasti akan merasakan fitrahnya,
termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis,
maka jika harus demikian,
untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti,
jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati ini salah dalam pengelolaanya,
oleh karenanya,
jika aku harus mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia, maka aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan menikah denganku nanti,
walaupun aku belum pernah bertemu dengannya,
lantaran pasti Allah akan mempertemukanku dengannya,
sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup fitrahku,
InsyaALLAH..
Kalau saja Allah menjadikan aku menikah dengan seorang wanita yang ditakdirkan Allah kepadaku,
maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya,
yang belum tentu akan menjadi istri ku kelak,
sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain,.
Dan rasa ketertarikanku cukuplah akan aku tumpahkan kepada istri ku kelak..
Yaa Allah, sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keridhoanMu, cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan ketika aku berbuat salah terhadap hatiku,
amiiin..
Kamis, 14 November 2013
REMAJA INDONESIA BERPRESTASI DUNIA
Posted By Awe Winarso on May 10, 2012 |
Kita pasti bangga jika mempunyai anak-anak berbakat,
kreatif dan mengharumkan nama Indonesia di mancanegara. Ya, anak-anak
muda adalah generasi penerus bangsa ini di masa mendatang. Usia muda
bukanlah penghalang bagi mereka untuk menunjukan pada dunia kemampuan
dan skillnya. Di saat anak-anak lain cuma sibuk nonton TV, main playstation dan kebut-kebutan pake motor, anak muda yang berikut ini malah mendunia berkat prestasi mereka.
Adalah Agasha Kareef Ratam, usianya masih sangat muda baru
15 tahun dan merupakan alumnus dari SD Al-izhar Pondok Labu (Jakarta
Selatan). Cucu dari mantan presiden BJ Habbie ini lahir di Boston
21 November 1997. Tapi, di kancah internasional Olimpiade Matematika
prestasinya jangan diragukan lagi. Di kompetisi tingkat dunia ini dia
sudah berkali-kali mengharumkan nama Indonesia. Bersama tiga orang
temannya, Rezky Arizaputra (siswa SD Al Azhar 13 Rawamangun, Jakarta
Timur) Nicolas Steven Husada (siswa SD Universal Jakarta Utara) dan
Stanley Orlando (siswa SD Santa Ursula Jakarta) telah mengikuti Po Leung
Kuk 13th Primary Mathematics World Contest (PMWC) di Hongkong pada Juli 2010. Agasha berhasil merengkuh medali emas (Kategori tim) dan perak (kategori individual).
Tidak hanya sampai di situ saja, sebelumnya bersama
rekannya juga dari sekolah lain, dia meraih 4 medali emas di Yogyakarta
pada 8-14 November 2009 dalam Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam International Tingkat Dasar (IMSO) serta membawa Indonesia meraih
juara umum dengan memboyong 6 emas dari 9 negara peserta. Lalu pada
27-30 Oktober 2009 dalam 3th Wizards at Mathematics International Contest (Wizmic) di Lucknow, India, Agasha juga mendapat penghargaan Overall Champion. Dan yang terbaru dalam ajang International Indonesia Mathematics Competition (IIMC) untuk jenjang SMP di Bali 18-23 Juli 2011, berhasil membawa Indonesia menduduki peringkat ketiga dari 28 negara yang menjadi peserta.
Menurut Bunda Agasha, Ashoya. SH, anaknya sudah menyukai matematika
sejak kecil. Dia tidak pernah mengikuti les tambahan matematika, tapi
berhasil memenangkan berbagai kompetisi matematika beberapa tahun yang
lalu untuk tingkat provinsi DKI Jakarta. Atas prestasinya juga Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menganugerahkan penghargaan Satyalancana Wira Karya kepada
Agasha, sebuah penghargaan untuk pemenang lomba sains dan olahraga
tingkat internasional.Di dunia balap mobil, Indonesia mempunyai satu nama yang patut dibanggakan. Ya, Rio Haryanto, berusia 19 tahun yang kini membalap untuk tim Carlin di ajang GP2 Series. Di ajang Formula Asia tahun 2009, Rio menempati urutan pertama untuk kategori Asia dan ketiga kategori internasional. Dalam Formula Asia tersebut Rio 7 kali finish di urutan pertama. Mengawali balapan dari arena gokart tahun 2002, Rio yang mewarisi bakat membalap dari ayahnya, Sinyo Haryanto, berhasil meraih Juara Nasional gokart kelas kadet. Semenjak itulah dia bercita-cita untuk menjadi pembalap profesional F1. Berkat keberhasilannya di ajang GP3, Rio menjadi pembalap termuda di dunia yang telah menguji coba mobil F1 di Sirkuit Abu Dhabi pada November 2010.
Pemuda yang sekarang tinggal dan menuntut ilmu di Singapura ini mengatakan kunci suksesnya selama ini adalah dukungan penuh dari kedua orang tuanya dan pola hidup sehat. Setiap hari, selain kegiatan sekolah Rio disibukkan dengan rutinitas olahraga, seperti lari sejauh 10-12 kilometer, renang dan latihan beban yang didampingi oleh pelatih fisik khusus dari Belanda, Dennis Van Rhee. Berkat prestasi dan pola hidup sehat yang dijalaninya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkat Rio sebagai Duta Anti Narkoba tahun 2009. Selain itu, pada tahun 2010 dia juga ditunjuk menjadi Duta Komodo untuk mempromosikan Pulau Komodo sebagai salah satu pemenang New7Wonder, satu dari tujuh keajaiban dunia.
Lain lagi dengan remaja yang satu ini, kegemarannya bermain game ternyata mengantarkan dirinya menjadi salah satu pencipta game dan software mobile termuda di dunia. Di usia 13 tahun Fahma Waluya Rosmansyah berhasil memperoleh penghargaan APICTA Awards dalam lomba pembuatan software di Kuala Lumpur (Malaysia) dalam ajang Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA) International pada Oktober 2010. Fahma telah berhasil membuat software mobile untuk ponsel diantaranya, DUIT (Doa Usaha Ikhlas dan Tawakal), Bahana (Belajar Huruf Warna Angka), Mantap (Matematika untuk Anak Pintar), Doa Muslim (Prayers for Children) dan Enrich (English for Children). Game terbaru yang diciptakannya adalah Raid The Mice. Sebuah game permainan dengan tema anti korupsi dan pernah dicoba langsung oleh Ketua KPK Abraham Samad pada awal Februari 2012 lalu. Sejak umur 11 tahun Fahma memang sudah menonjol dalam pemograman dan pernah dinobatkan sebagai programmer termuda dalam Ovi Store Nokia.
Kemiskinan bukan menjadi alasan untuk tidak berprestasi, adalah Ni Wayan Mertayani, berumur 14 tahun, pelajar SMP 2 Abang, Karang Asem Bali ini, seorang anak yatim setelah ditinggal ayahnya. Hidup bersama ibunya, I Nengah Kirem, Mertayani sejak kecil sudah diajarkan untuk hidup mandiri, sepulang sekolah biasanya dia membantu ibunya yang seorang pemulung memungut sampah di dekat pantai. Selain itu, Mertayani juga berjualan makanan sekedar untuk membantu menopang hidup dan sekolah. Lokasi rumahnya yang berdekatan dengan pantai, membuat para turis kerap singgah ke tempatnya.
Dan suatu ketika, rumahnya kedatangan seorang turis dari Belanda bersama temannya. Mertayani kemudian iseng meminjam kamera turis tersebut. Kemudian kamera tersebut digunakan olehnya untuk memotret beberapa objek foto. Lalu turis itu menyarankan agar Mertayani mengikuti Lomba Fotografi Internasional di Belanda yang diadakan oleh yayasan Anne Frank. Berbekal 15 foto hasil karyanya, dia berhasil meraih Juara pertama dari 200 fotografer dari berbagai negara.
Prestasi yang dipersembahkan oleh anak-anak bangsa di atas adalah berkat dukungan dari orang tua. Sangat penting untuk bagi orang tua untuk selalu mendukung kegiatan anak yang sifatnya positif. Kemiskinan bukan alasan untuk tidak meraih prestasi. Seperti dikutip dari perkataan Ni Wayan Mertayani “ Uangku memang terbatas, tapi mimpiku tidaklah terbatas”. Apakah kamu calon anak berprestasi selanjutnya? Ayo buktikan!
Sumber : indonesiaberprestasi. web.id
kompas.com
REMAJA BERPRESTASI
Remaja Berprestasi
Sebenarnya, pencapaian prestasi pada masa remaja sangat penting, terutama prestasi belajar, karena menjadi landasan untuk langkah-langkah selanjutnya. Tetapi, John W. Santrock dalam bukunya yang berjudul Adolescence menganggap
bahwa masa remaja adalah masa kritis dalam pencapaian prestasi. Hal ini
disebabkan tekanan sosial dan akademis yang memaksa remaja untuk
berprestasi dengan cara-cara yang baru.
Ada
pula dengan prestasi yang membutuhkan motivasi untuk mencapai
kesuksesan. Motivasi berprestasi adalah keinginan untuk menyelesaikan
sesuatu, mencapai suatu standar kesuksesan, dan berusaha untuk mencapai
kesuksesan tersebut.
Tetapi, menurut Homer seperti yang dikutip melalui buku Adolescence, sekarang
ini, banyak remaja yang takut akan kesuksesan. Mereka khawatir tidak
akan diterima oleh lingkungan sosialnya bila mereka sukses. Tentu saja,
kita tidak boleh larut dalam pandangan keliru tersebut. Kita memang
makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan.
Akan
tetapi, kita juga mempunyai kewajiban bersama dan mencapai apa yang
kita cita-citakan. Jika selama ini kita belum berprestasi, kita tidak
perlu malu untuk memulai membangun prestasi. Karena prestasi kita di
masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan saat ini.
Oleh
karena itu, jadilah remaja yang berhasil. Jadilah remaja yang sukses di
sekolah dan menikmati sekolahnya.Jadilah remaja yang memiliki prestasi
di bidang yang disukai.
Sifat siswa yang berprestasi …
- Yakin bahwa Prestasi adalah tanggung jawab diri sendiri.
- Berpendapat bahwa sekolah itu penting, tetapi bukan yang paling penting.
- Memahami bahwa sekolah tidak 100% mengasyikkan.
- Memandang diri sendiri sebagai sosok yang kompeten dan mampu.
- Jika tidak mendapatkan nilai sempurna dalam suatu mata pelajaran, maka tidak akan menganggap hal itu sebagai kegagalan.
- Tidak begitu menekankan arti penting kesuksesan.Menyadari bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan berkembang.
SUKSES BERPRESTASI
DI SEKOLAH
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan agar kita dapat berprestasi dalam belajar:
1.Persiapan diri dalam menghadapi pelajaran
2.Menciptakan pusat belajar di rumah
3.Pengaturan waktu
4.Pengaturan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam belajar
Persiapan Menghadapi Pelajaran
1.
Di rumah. Sebelum berangkat sekolah, periksa dulu barang-barang
yang kita butuhkan hari itu! Apakah semuanya sudah lengkap untuk dibawa?
2. Di lokermu. Sebelum masuk kelas, periksa dulu loker kita! Pastikan semua yang kita butuhkan sudah tersedia.
3. Di kelas. Sebelum ke luar kelas, catat tugas-tugas yang diberikan dan apa yang harus kita lakukan!
4.
Kembali ke rumah. Periksalah jadwal harianmu! Cobalah berpegang
teguh pada jadwal itu! Tepatilah komitmen belajar kita! Jika
memungkinkan, kerjakan PR pada jam yang sama setiap hari.
5.
Di rumah. Sebelum tidur, letakkan tas, alat tulis, buku, PR, tugas
sekolah yang sudah ditandatangani, tugas-tugas khusus, dan apa saja
yang kita butuhkan esok paginya di satu tempat.
Tips agar bisa belajar dengan baik.
1. Tempat. Berusahalah menemukan tempat yang tenang dan bebas dari gangguan (suara telepon, TV, radio, video game).
2.
Pencahayaan. Sebagian siswa menyukai cahaya terang, sementara yang
lain memilih cahaya yang lebih redup. Tetapi, cahaya alami matahari
adalah cahaya yang paling bagus untuk kita.
3.
Tempat duduk. Boleh meringkuk di sofa empuk ketika membaca cerita.
Dan cobalah untuk duduk di kursi berpunggung di depan meja agar kita
berkonsentrasi.
4. Keributan. Carilah tempat yang jauh dari pusat keramaian.
5.
Alat tulis. Siapkan alat tulis selengkap mungkin, seperti pensil,
pulpen, karet penghapus, rautan pensil, penggaris, dan pensil warna di
mejamu.
6.
Komputer. Jika kamu memiliki komputer di rumah yang diletakkan
bukan di temapat belajar, melainkan di tempat umum yang bisa digunakan
bersama anggota keluarga laian, dan kamu harus membuat jadwal untuk
menggunakan komputer.7.Tempat
menyimpan
tugas
berjangka
panjang. Sebagian tugas dari sekolah bisa menghabiskan waktu
berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk diselesaikan. Dalam
merencanakan tugas berjangka panjang, pikirkan pula cara menata
bahan-bahan yang kamu butuhkan untuk tugas
Terima Kasih Telah Membaca...:)
Rabu, 13 November 2013
REMAJA DAN GAYA HIDUPNYA
| Remaja, globalisasi, dan gaya hidup |
|
| Written by Nova | |
Dinamika
zaman selalu menyuguhkan sajian hangat, membuat penasaran, kecanduan,
dan tak sedikit pandangan tak sedap jika tidak mengikuti arus
berputarnya, terlebih bagi kaum “remaja” yang nota bene
masih “labil” di tengah pencarian jati dirinya. Berbagai slogan pun
muncul di kalangan remaja, seperti “tidak gaul jika tidak mengikuti arus
(globalisasi)”, ataupun “tidak modern kalau gaptek” sayangnya mereka
hanya berpatokan pada bangsa lain (Barat), hingga budaya sendiri rela
digadaikannya. Tak bisa dipungkiri memang, begitu banyak hal positif
yang dapat kita semai dari perubahan (teknologi, industri), namun hal
negatif pun kerap tak dapat kita hindari akibat dari adanya proses
tersebut. Saat ini kita dapat menembus dunia yang tanpa batas dan ruang,
mengakses segala informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia
dengan cepat, berkomunikasi dengan siapa pun di manapun dengan efektif,
dan berbagai aktivitas lainnya yang serba instan dengan tidak
mengesampingkan aktivitas pokok.
Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, remaja diartikan sebagai usia muda atau mulai dewasa. Masa
remaja merupakan masa pencarian jati diri, di mana pada fase ini mereka
belajar untuk memahami dan menerima keadaan dan kenyataan yang ada
dalam dirinya dan orang lain, juga termasuk lingkungan sosial yang membentuknya. Menurut Sudarwan (2010), periode remaja transisi berusia antara 12-19 tahun di mana periode ini merupakan transisi antara masa kanak-kanak dan usia dewasa. Periode
ini merupakan masa perubahan yang sangat besar. Selama periode tahun
ini pertumbuhan fisik, emosional, dan intelektual terjadi dengan pesat, hal tersebut menjadikan individu sebagai remaja untuk menyesuaikan dan memperluas pandangannya tentang dunia (rasa ingin tahu yang tinggi).
Pertumbuhan
dan perkembangan remaja dapat dilihat dari dua sisi yang saling
terkait, di mana ia mengalami perubahan secara fisik (biologis) dan
psikis (rohani dan sosial), sebagaimana diutarakan Sudarwan (2010: 8).
Ketika seorang individu beranjak remaja, berarti ia telah mampu untuk
membedakan hal yang baik dan yang buruk, hal tersebut perlu perhatian
dan pengawasan dari orang-orang di sekitarnya (orang tua, guru,
masyarakat).
Berbicara
mengenai remaja dengan globalisasi dewasa ini, memunculkan berbagai isu
untuk terus diikuti perkembangan dan dinamikanya, juga sebagai bahan
kajian yang tak kalah menarik. Era
globalisasi menuntut segala aspek kehidupan dan seluruh masyarakat
untuk berubah, lebih berkembang dan maju. Era globalisasi merupakan era persaingan bebas dalam segala aspek kehidupan (ekonomi, pendidikan, teknologi, dll.), pada era ini memperlihatkan suatu kondisi bahwa dunia ini sudah semakin kecil. Di dalam konteks informasi, dunia ini sudah menjadi satu, tidak ada lagi kotak-kotak yang membatasi wilayah satu dengan lainnya. Dengan adanya peran media (televisi, radio, majalah, internet) telah mempengaruhi gaya hidup dan moralitas remaja.
Dampak Globalisasi Bagi Remaja (gaya hidup, moralitas)
a. Dampak Positif
- Kemajuan
teknologi berkembang dengan pesat (internet: memudahkan akses informasi
dan komunikasi; ajang silaturahmi dan eksistensi remaja lewat situs
jejaring sosial (dengan adanya facebook, twitter); ajang bisnis online, dll.
- mempercepat pertumbuhan perkembangan remaja (memiliki rasa ingin tahu yang tinggi).
b. Dampak Negatif
- Tercerabutnya
akar budaya, remaja kini merasa malu dengan budaya sendiri dan merasa
bangga dengan budaya asing. Dengan adanya berbagai media yang sering
diakses oleh para remaja, membuat mereka ingin seperti yang mereka
idolakan (proses tersebut perlahan telah mengubah gaya hidup remaja). Di
satu sisi hal ini berdampak positif karena memacu perubahan, namun di
lain sisi telah mengantarkan mereka pada budaya asing yang tidak sesuai
dengan norma-norma pada masyarakat tertentu (misalnya: pacaran yang
berlebihan, dugem, hedonis, konsumtif, dll.)
- Dengan
adanya kemajuan teknologi (internet), membuat remaja menjadi pemalas
(membuang waktu percuma di hadapan komputer hanya untuk chatting, atau facebook-an), hal tersebut bisa membuat perkembangan sosialisasi (khususnya remaja) tidak baik, enggan berkomunikasi langsung dengan orang lain, akan menimbulkan keegoisan dan individualis (tidak mau bekerja sama dengan orang lain), dll.
- Hilangnya identitas diri (para remaja dihadapkan pada proses mengikuti dan meniru trend
asing terus-menerus, misalnya pop Korea yang sedang menjadi kiblat para
remaja kini. Mereka merubah penampilan (model rambut, mode pakaian),
gaya hidup, dan lebih mudah menerima budaya bangsa lain dibanding
melestarikan budaya sendiri, hal ini dapat melahirkan hibridasi budaya
(budaya campuran) sebagai akibat dari adanya globalisasi.
Plummer
(1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang diidentifikasikan
oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang
mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka
pikirkan tentang dunia sekitarnya. Berdasarkan pengertian tersebut, kaum
remaja sangatlah identik dengan apa yang mereka lakukan dalam setiap
waktunya (remaja tidak terlepas dari peran media dalam kehidupan
sehari-harinya). Sebagian besar waktu mereka tersita dengan menonton
siaran televisi (program-program yang mereka minati yang bertemakan
hiburan, musik, fashion, dll. seperti: film-film Korea, ajang reality
show “Girl and Boy Band”), mendengarkan siaran radio (lagu-lagu yang
sedang nge-trend), mengikuti perkembangan para idolanya dalam
majalah ataupun internet, dan berbagai cara lain guna memperoleh
informasi agar tidak ketinggalan zaman.
Adler
(dalam Hall & Lindzey, 1985) menyatakan bahwa gaya hidup adalah hal
yang paling berpengaruh pada sikap dan perilaku seseorang dalam
hubungannya dengan tiga hal utama dalam kehidupan yaitu pekerjaan, persahabatan, dan cinta.
Bertolak pada pengertian gaya hidup di atas, remaja merupakan sasaran
empuk dari terciptanya pola-pola kehidupan berdasarkan persahabatan dan
cinta. Di mana pada masa tersebut merupakan saat-saat untuk mereka
saling mengekspresikan rasa persahabatan dan cinta dalam berbagai bentuk
(hal ini dapat berakibat positif dan negatif, dengan munculnya
geng-geng antar remaja, biasanya bermula dari lingkungan sekolah, tempat
di mana mereka berinteraksi dengan teman sebaya).
Dari
munculnya berbagai dampak globalisasi (peran media) terhadap remaja
(gaya hidup dan moralitas) di atas, sangat diperlukan perhatian dan
pengawasan dari berbagai pihak, agar dalam proses perkembangan
berikutnya tidak menimbulkan hal-hal yang merugikan (baik bagi remaja
sendiri maupun bagi keberlangsungan bangsa ini). Perlu dilakukan hal-hal
berikut:
- Adanya kontrol sosial dari orang tua, guru, dan masyarakat sekitar, juga dengan mengadakan kegiatan-kegiatan positif yang melibatkan remaja;
- Adanya sosialisasi tentang pentingnya melestarikan budaya warisan leluhur;
- Perhatian dan pengawasan dari orang tua dan guru terhadap remaja harus lebih besar dan lebih dekat terhadap mereka, agar mereka lebih terbuka dan mudah diarahkan;
- Komunikasi yang baik antara orang tua, guru, dan remaja; serta
- Perkembangan tentang globalisasi dan informasi harus terus diikuti oleh orang tua dan guru.
|
Sabtu, 09 November 2013
REMAJA LABIL
Remaja
berada pada periode perkembangan yang banyak mengalami masalah
pertumbuhan dan perkembangan khususnya menyangkut dengan penyesuaian
diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa.
Masalah yang sering terjadi pada perkembangan intelektual dan emosional
remaja adalah ketidakseimbangan antara keduanya. Kemampuan intelektual
mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan
prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah dengan berbagai media.
Pembelajaran
kadang tidak selalu disukai oleh peserta didiknya, sehingga banyak
tujuan pembelajaran yang tidak tercapai. Ini dilatarbelakangi oleh
kurangnya pemahaman dari sang pendidik akan perkembangan emosi dan jiwa
peserta didiknya, khususnya remaja. Sebab, dalam usia remaja perubahan
emosi dan psikologis sangat pesat sekali.
Gejala-
gejala emosi para remaja seperti perasaan sayang, marah, takut, bangga
dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu
dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai pendidik mengetahui setiap
aspek tersebut dan hal yang lain merupakan sesuatu yang terbaik sehingga
perkembangan remaja sebagai peserta didik berjalan dengan normal tanpa
ada mengalami gangguan.
Tanpa
adanya pemahaman terhadap perkembangan emosi jiwa remaja ini, sang
pendidik kemungkinan besar akan mengulangi kesalahan dengan memberikan
pembelajaran yang tidak sesuai dengan kondisi perubahan yang ada pada
diri remaja.
PART 2
Masa
remaja adalah periode antara masa kanak-kanak dan dewasa diliputi oleh
perubahan dalam perkembangan fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan
ini membuat periode ini memerlukan waktu penyesuaian yang relative lama.
Menurut Pusat Nasional untuk Statistik Kesehatan, ada lebih dari 13.000
kematian remaja di Amerika Serikat setiap tahun. Sekitar 70% dari
kematian tersebut adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor, cedera
yang tidak disengaja, pembunuhan, dan bunuh diri. Hasil dari Survei
Risiko Perilaku Pemuda Nasional (YRBS) pada tahun 2005 menunjukkan bahwa
remaja terlibat dalam perilaku yang meningkatkan kemungkinan mereka
meninggal atau sakit dengan mengendarai kendaraan setelah minum atau
tanpa sabuk pengaman, membawa senjata, dengan menggunakan zat ilegal,
dan terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman mengakibatkan kehamilan
yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual, termasuk infeksi
HIV. Statistik ini menggarisbawahi pentingnya memahami pengambilan
tindakan yang penuh risiko dan perilaku pada remaja.
Masa
remaja merupakan saat reaktivitas emosional meningkat. Selama periode
ini, lingkungan sosial berubah sehingga lebih banyak waktu yang
dihabiskan dengan teman sebaya dibandingkan orang dewasa, dan lebih
banyak konflik timbul antara remaja dengan remaja maupun dengan orang
tua. Perubahan dalam interaksi sosial dapat mempengaruhi munculnya
reaktivitas emosional. Reaktivitas emosional yang lebih besar dan
sensitivitas selama masa remaja berperan dalam gangguan afektif selama
masa perkembangan
Sejumlah
hipotesis kognitif dan neurobiologis telah tetapkan untuk menjelaskan
mengapa remaja terlibat dalam perilaku pilihan suboptimal. Dalam review
terbaru dari literatur tentang perkembangan otak manusia remaja,
Yurgelun-Todd menunjukkan bahwa perkembangan kognitif selama masa remaja
dikaitkan dengan efisiensi semakin besar kontrol kognitif dan afektif
modulasi. Peningkatan aktivitas di daerah prefrontal sebagai indikasi
pematangan dan aktivitas berkurang di daerah otak tidak relevan yang
digambarkan sebagai penjelasan neurobiologis untuk perubahan perilaku
yang berhubungan dengan remaja. Ini merupakan pola umum, kontrol
kognitif lebih baik dan regulasi emosi dengan pematangan korteks
prefrontal, menunjukkan peningkatan linier dalam pembangunan sejak kecil
hingga dewasa.
Neuroimaging : Studi Pembangunan Otak Manusia
- Studi MRI Pembangunan Otak Manusia
Beberapa
studi telah menggunakan MRI struktural untuk memetakan perkembangan
otak normal. Seperti yang kita tahu bahwa otak memiliki materi putih dan
materi abu-abu. Meskipun otak mencapai sekitar 90% dari ukuran dewasa
pada usia enam, subkomponen materi abu-abu dan putih otak terus
mengalami perubahan dinamis sepanjang masa remaja. Data dari studi MRI
longitudinal yang menunjukkan bahwa perubahan volume materi abu-abu dari
waktu ke waktu memiliki pola berbentuk U terbalik dan memiliki variasi
regional yang lebih besar dari materi putih. Studi MRI menunjukkan
hilangnya materi abu-abu kortikal pertama di daerah sensorimotor utama,
yang diikuti dengan korteks prefrontal. Materi abu-abu ini terkait dengan berpikir “sadar”.
Dikatakan selama masa remaja sistem limbik adalah sistem pertama yang
materi abu-abu nya berkembang. Sistem limbik, yang sering disebut
sebagai “otak emosional”, ditemukan terkubur di dalam otak besar. Sistem
ini berisi thalamus, hypothalamus, amygdala, dan hippocampus.
Sistem limbik merupakan struktur otak manusia yang mendukung berbagai fungsi termasuk emosi, perilaku, memori jangka panjang, dan penciuman yang masih mengedepankan emosi. Bersamaan dengan perubahan hormonal, dominasi sistem limbik membuat gejolak emosi lebih intens,
misalnya kemarahan, ketakutan, agresi, kegembiraan dan daya tarik
seksual. Sedangkan bagian yang terakhir yang di liputi materi abu-abu
adalah korteks prefrontal. Kortek prefrontal adalah
fungsi eksekutif yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan
antara pikiran yang saling bertentangan, menentukan baik dan buruk,
lebih baik dan terbaik, yang sama dan berbeda, prediksi hasil, harapan
berdasarkan tindakan, dan kontrol sosial) yang mengolah informasi secara rasional.
- Studi DTI Pembangunan Otak Manusia
DTI,
dapat memeriksa peran saluran materi putih tertentu dalam perkembangan
otak dan perilaku. Meneliti saluran materi putih dapat mempelajari jalur
konektivitas di otak, dan mungkin melalui jalur ini, informasi dapat
berjalan dari satu daerah otak yang lain. Studi neuroimaging yang
mengaitkan perkembangan materi putih saluran serat dengan perbaikan
dalam kemampuan kognitif dengan usia. Saluran materi putih antara
ganglia basal dan prefrontal-saluran serat posterior terus berkembang di
masa kanak-kanak menjadi dewasa, tetapi hanya saluran antara korteks
prefrontal dan basal ganglia yang berkorelasi dengan kontrol impuls,
yang diukur dengan kinerja. Dalam perkembangan studi DTI,
langkah-langkah saluran serat yang berkorelasi dengan usia, tetapi
spesifisitas saluran serat tertentu dengan kinerja kognitif yang
ditunjukkan dengan memisahkan saluran tertentu.
PART 3
Masa
remaja adalah masa yang galau, labil ataupun alay. Ada begitu banyak
istilah-istilah aneh yang disematkan untuk para remaja yang sedang dalam
masa pencarian jati diri. Di dalam otak dan kepalanya, para remaja ini
mengalami beberapa perubahan yang perlu diperhatikan.
Perubahan-perubahan
ini dapat menjelaskan perilaku remaja yang acapkali penuh drama, tak
rasional dan agresif tanpa alasan yang jelas. Di sisi lain, para remaja
ini juga memiliki kebutuhan yang besar akan kebebasan dan kasih sayang.
Memang setelah bayi, pertumbuhan otak yang paling drastis terjadi pada
masa remaja.
Berikut adalah 10 perubahan yang terjadi pada otak para remaja:
- Otak Sedang Dalam Tahap Perkembangan
Usia
remaja kebanyakan ditentukan pada rentang usia antara 11 - 19 tahun.
Masa-masa ini dianggap sebagai masa kritis pembangunan. Ketika melalui
masa pertumbuhan ini, ketrampilan kognitif dan kemampuan baru akan
muncul. "Otak terus berubah sepanjang waktu, tetapi ada lompatan besar
dalam perkembangannya ketika memasuki masa remaja. orangtua harus
memahami bahwa meskipun anaknya tumbuh besar, pada tahap ini remaja
masih berada dalam masa perkembangan yang akan mempengaruhi kehidupannya
selanjutnya," kata Sara Johnson, asisten profesor di Sekolah Johns
Hopkins Bloomberg of Public Health.
- Otak Mulai Mekar
Pada
bayi, otak mengalami pertumbuhan koneksi yang amat besar. Namun ketika
memasuki usia 3 tahun, beberapa sambungan tersebut kemudian dipangkas
agar lebih lebih efisien. Tetapi temuan yang diterbitkan jurnal Nature
Neuroscience menegaskan bahwa ledakan pertumbuhan saraf terjadi untuk
kedua kalinya tepat menjelang pubertas. Puncaknya adalah saat usia
sekitar 11 tahun untuk anak perempuan dan 12 tahun untuk anak laki-laki.
Perkembangan ini diperkirakan terus berlanjut hingga usia 25 tahun.
Beberapa perubahan kecil juga tetap berlangsung seumur hidup.
- Memiliki Kemampuan Berpikir yang Baru
Karena
meningkatnya sambungan saraf, otak remaja jadi lebih efektif dalam
mengolah informasi. Remaja mulai memiliki kemampuan komputasi dan
belajar mengambil keputusan layaknya orang dewasa. Sayangnya, remaja
masih terlalu dipengaruhi oleh emosi karena otaknya lebih mengandalkan
sistem limbik yang mengedepankan emosi ketimbang korteks prefrontal yang
mengolah informasi secara rasional.
- Rewel Kepada Orangtua
Remaja
berada di tengah kesenangan memperoleh keterampilan baru yang luar
biasa, terutama yang berkaitan dengan perilaku sosial dan pemikiran
abstrak. Tapi karena belum pandai menggunakan, remaja harus melakukan
percobaan. Terkadang orangtuanya sendiri dijadikan sebagai kelinci
percobaan. Banyak remaja melihat konflik sebagai sarana untuk
mengekspresikan diri dan mengalami kesulitan untuk berfokus pada hal-hal
abstrak atau memahami sudut pandang orang lain. Pada dasarnya remaja
masih membutuhkan orangtuanya dengan kematangan emosional agar
membantunya tetap tenang.
- Gejolak Emosi yang Intens
Masa
pubertas merupakan awal dari perubahan besar dalam sistem limbik, yaitu
bagian otak yang tidak hanya membantu mengatur detak jantung dan kadar
gula darah, tetapi juga penting untuk membentuk memori dan emosi. Selama
masa remaja, sistem limbik lebih banyak mendominasi dibandingkan
korteks prefrontal yang berhubungan dengan kemampuan perencanaan,
pengendalian dorongan dan daya nalar yang lebih tinggi. Bersamaan dengan
perubahan hormonal, dampak dominasi sistem limbik ini membuat emosi
yang dialami terasa lebih intens, misalnya kemarahan, ketakutan, agresi,
kegembiraan dan daya tarik seksual.
- Sangat Memperhatikan Kata Teman
Karena
remaja mulai mampu berpikir abstrak, kecemasan sosialnya pun meningkat.
Demikian menurut penelitian yang dimuat jurnal Annals of New York
Academy of Sciences. Penalaran yang abstrak memungkinkan remaja
memperhatikan bagaimanakah dirinya dilihat oleh orang lain. Remaja dapat
menggunakan keterampilan baru untuk memikirkan apa yang orang lain
pikirkan tentang dirinya. Itulah mengapa remaja sangat mendengarkan
pendapat temannya. Namun di sisi lain, teman juga membantu para remaja
mempelajari keterampilan baru seperti negosiasi, kompromi dan
perencanaan kelompok.
- Tak Pandai Mengukur Risiko
Kewaspadaan
remaja bisa dibilang lambat bergarak karena dominasi sistem limbik yang
mengedepankan emosi. Akibatnya remaja memiliki toleransi risiko yang
lebih tinggi dibanding orang dewasa. Secara keseluruhan, perubahan ini
dapat membuat remaja rentan terlibat perilaku berisiko seperti mencoba
narkoba, terlibat perkelahian atau perilaku lain yang tidak aman.
- Membutuhkan Figur Orangtua
Sebuah
survei terhadap remaja mengungkapkan bahwa 84 persen remaja memikirkan
ibunya dan 89 persen memikirkan ayahnya. Lebih dari tiga perempat remaja
suka menghabiskan waktu bersama orangtuanya. Sebanyak 79 persen senang
bercengkrama dengan ibu dan 76 persen dengan ayah. Remaja masih
membutuhkan orangtuanya untuk mempelajari bagaimanakah hidup mandiri dan
menyiapkan diri untuk membentuk rumah tangganya sendiri.
- Butuh Tidur Lebih Banyak
Mitosnya
adalah remaja lebih banyak membutuhklan waktu tidur ketimbang saat
masih kanak-kanak. Namun sebenarnya kebanyakan masalah tidur yang
dialami remaja adalah pergeseran ritme sirkadian selama masa remaja.
Remaja cenderung bangun siang namun terjaga sampai larut malam. Ditambah
banyaknya kegiatan, banyak remaja akhirnya sampai kurang tidur.
Akibatnya dapat memperburuk pengambilan keputusan. Tidur yang cukup
dapat membantu otak remaja bekerja lebih optimal.
- Narsis
Perubahan
hormon saat pubertas berdampak besar bagi otak, salah satunya adalah
memacu reseptor oksitosin diproduksi lebih banyak. Oksitosin
meningkatkan kepekaan sistem limbik dan berkaitan dengan perasaan
kesadaran diri, sehingga membuat remaja merasa seolah-olah ada orang
yang mengawasi Hal ini mungkin membuat remaja jadi tampak egois. Di sisi
lain, perubahan hormon dalam otak remaja ini juga dapat membuat remaja
menjadi lebih idealis. Sampai otaknya berkembang untuk menghadapi
isu-isu yang bersifat abu-abu, remaja cenderung berpikir secara sepihak.
PART 4
Saat
seseorang memasuki usia remaja, biasanya emosinya akan labil atau
berubah-ubah. Perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan
reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi
sosial. Ketika sedang kesal karena sesuatu, beberapa dari mereka akan
meluapkan rasa emosinya. Sangat jarang para remaja yang mampu
mengendalikan emosinya itu. Jika si anak mulai memasuki masa remajanya,
maka sebagai orangtua Anda harus bisa menjalin komunikasi yang baik
dengannya. Jangan malah membiarkan si anak ketika mereka sedang emosi.
Ada
beberapa cara jitu untuk mengatasi emosi para remaja. Apa saja?
Dilansir dari Timesofindia.Indiatimes.com, inilah 4 cara mengatasi emosi
para remaja:
- Kenali dulu gejalanya
Emosi
remaja harus diatasi dan diawasi sejak awal. Anak-anak yang sudah
menunjukkan tanda-tanda buruk, seperti suka berbohong, suka jahat pada
temannya, berkata kasar, lain tindakan kasar lainnya itu harus segera
dinasihati. Untuk menasihatinya, Anda disarankan agar berbicara
baik-baik kepadanya. Berikanlah penjelasan yang baik untuknya demi masa
depan si anak.
- Meredam emosinya
Ketika
si anak marah, mereka bisa akan melakukan tindakan yang bisa
membahayakan orang lain atau dirinya sendiri. Ketika hal tersebut
terjadi, orangtua harus memberikan perhatian penuh pada anak. Selain
itu, Anda juga harus mampu meredam emosinya dengan cara menenangkannya.
- Mengawasi perilakunya
Orangtua
harus bisa mengawasi perilaku dan pergaulan mereka. Anda disarankan
agar selalu memperhatikan teman-temannya dan kegiatan apa yang biasa
dilakukannya di rumah. Selain itu, orangtua juga harus membangun
hubungan yang baik dan dekat dengan anak-anaknya. Tujuannya adalah agar
si anak tidak berani melakuakn hal-hal yang bisa membahayakan dirinya
atau orang lain.
- Mengatasi akar masalahnya
Terkadang
emosi anak berasal dari hal-hal yang terpendam. Misalnya,
ketidaknyamanannya berada di kelas, sering diejek oleh teman-temannya,
dan hal lainnya. Hal tersebut bisa saja membuat mereka jadi malas pergi
ke sekolah, mudah marah, dan berkata kasar. Untuk itu, sebagai orangtua
Anda disarankan agar mengenali dan memahami si anak. Selain itu, sabar
juga untuk menggali akar masalah yang membuat anak bertindak buruk.
Itulah
cara tepat mengatasi emosi remaja. Seorang anak tak mungkin bersikap
kasar atau marah berlebihan tanpa alasan. Untuk itu, sebagai orangtua
Anda harus selalu mengawasinya dan menjalin komunikasi yang baik ddengan
mereka agar bisa mengatasi emosinya.
Sumber : Internet
Jumat, 08 November 2013
KONSELING REMAJA
Psikologi Remaja
Rangkuman
Judul : Psikologi Remaja
Pengarang : Dr. Sarlito Wirawan Sarwono
BAB I
DEFINISI REMAJA
I. DEFINISI MENURUT HUKUM INDONESIA
Konsep ”remaja” tidak dikenal dalam sebagian undang-undang yang berlaku.
Contoh data :
Hukum Perdata
Usia ≥ 21 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) à dewasa
Usia < 21 tahun (dan belum menikah) à
masih butuh wali untuk melakukan tindakan hukum perdata (mis.
Mendirikan perusahaan atau membuat perjanjian di hadapan pejabat hukum)
Hukum Pidana
Usia ≥ 18 tahun (atau kurang tapi sdh menikah) à dewasa
Usia < 18 tahun (blm menikah) à anak-anak (msh mjd tgjwb orang tua), contoh: jika melakukan
pencurian tdk disebut tindakan kejahatan (kriminal) tapi disebut
”kenakalan”, jika tindakan tersebut patut dijatuhi hukuman negara dan
orang tuanya ternyata tidak mempu mendidik anak itu lebih lanjut maka
mjd tgjwb negara dan dimasukkan ke dalam lembaga pemasyarakatan khusus
anak-anak (di bawah Departemen Kehakiman)
Undang-undang Kesejahteraan Anak (UU No.4 / 1979)
Usia < 21 tahun à
anak-anak, berhak mendapat perlakuan dan kemudahan-kemudahan yang
diperuntukkan bagi anak (misal : pendidikan, perlindungan dari orang
tua, dll.)
UU Lalu Lintas
Usia ≥ 18 tahun à SIM A (SIM kendaraan roda 4 berbobot < 2 ton)
Usia ≥ 21 tahun à SIM B I ke atas (SIM kendaraan roda 4 > 2 ton)
Usia ≥ 16 tahun à SIM C (kendaraan roda 2)
UU
tidak mengecualikan mereka yang sudah menikah di bawah usia tersebut
dan memperlakukan semua di bawah usia tsb sebagai belum cukup umur atau
belum dewasa.
Hanya UU Perkawian saja yang mengenal konsep remaja walau tidak terbuka.
UU Perkawinan
Pasal 7 UU no.1 1974 ttg Perkawinan
Usia 16 tahun (wanita) & 19 tahun (pria) à usia minimal suatu perkawinan
Usia < 21 tahun à masih dibutuhkan izin orang tua untuk menikahkan
Usia ≥ 21 tahun à sudah tidah dibutuhkan izin orang tua untuk menikahkan
Jadi usia 16/19 s/d 21 tahun à dianggap belum dewasa penuh à disejajarkan dengan pengertian-pengertian ”remaja” dalam ilmu sosial
II. REMAJA DITINJAU DARI SUDUT PERKEMBANGAN FISIK
Remaja adalah :
masa pematangan fisik (± 2 tahun) : ”PUBERTAS”
wanita à dihitung mulai haid pertama
laki-laki à dihitung mulai mimpi basahnya
Istilah :
Inggris à ”Puberty”
Latin à (1) The Age of Manhord (Usia Kedewasaan), (2) “Pubescere” (pertumbuhan rambut di daerah tulang ‘pusic’ / di bawah kemaluan)
Note :
Sulit
menentukan batas umur remaja, karena proses biologis tersebut
dipengaruhi keadaan lingkungan, khususnya keadaan gizi yang lebih baik
yang mempercepat pertumbuhan organisme seksual manusia . Usia menarche
(awal haid) dipengaruhi oleh hubungan antar jenis yang serba boleh
(permisif), sehingga mempercepat kematangan tubuh.
III. REMAJA MENURUT WHO
Remaja adalah seuatu masa dimana :
1. individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual
2. individu mengelami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa
3. terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang lebih mandiri
(Muangman, 1980, hal. 9)
WHO menetapkan usia 10-20 tahun à Remaja
Karena
kehamilan dalam usia-usia tersebut mempunyai resiko yang lebih tinggi
daripada kehamilan dalam usia-usia di atasnya. (Sanderowitz dan Paxman,
1985)
Penetapan umur tersebut diberlakukan juga pada laki-laki.
WHO membagi 2 tahap remaja :
1. Remaja awal : 10-14 tahun
2. Remaja akhir : 15-20 tahun
Usia pemuda berdasarkan :
- PBB à 15-24 tahun
- Sensus penduduk 1980 (di Indonesia) à 14-24 tahun
IV. DEFINISI SOSIAL-PSIKOLOGIK
Csikszentimilhalyi & Larson (1984, hal 19):
Menyatakan
bahwa puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses
perubahan dari kondisi “Entropy (isi banyak tapi belum terkait dengan
baik)” ke kondisi “Negentropy (isi kesadaran tersusun dengan rapi,
pengetahuan yang satu terkait dengan pengetahuan yang lain dan
pengetahuan jelas hubungannya dengan sikap atau perasaan.
V. DEFINISI REMAJA UNTUK MASYARAKAT INDONESIA
Pedoman umum à usia 11-24 tahun dan belum menikah
BAB II
TINJAUAN TEORI
Awal mula konsep tentang remaja
*Konsep anak sudah dikenanl sejak abad ke-13
*Remaja
baru dikenal secara meluas dan mendalam pada awal abad ke-20 namun
tulisan-tulisan klasik yang menunjukkan indikasi tetantang remaja suda
ada sejak jaman filsuf Aristoteles (384-322 SM) dan J.J. Rousseau dalam
bukunya Emile (1762)
Tahap perkembangan jiwa menurut Aristoteles sbb :
1. 0-7 thn : masa kanak-kanak (infancy)
2. 7-14 th : masa anak-anak (boyhood)
3. 14-21 th : masa dewasa muda (young manhood)
(R.E. Muss, 1968, hal 15)
Batas usia 21 tahun tetap digunakan dalam kitab-kitab hukum bbbg negara, sebagai batas usia dewasa.
Empat tahap perkembangan Rousseau :
1. 0-4/5 thn à masa kanak-kanak (infancy)
2. 5-12 thn à masa bandel (savage state)
3. 12-15 thn à bangkitnya akal (ratio), nalar (reason) dan kesadaran diri (self conciosness)
4. 15-20 thn à masa kesempurnaan remaja (adolescene proper) dan merupakan puncak perkembangan emosi.
(R.E. Muss, 1968, hal 27-30)
Teori Rousseau yang
merekapitulasi (meringkas) perkembangan evolusi umat manusia pada
perkembangan individu manusia mempunyai pengikut di awal abad ke 20
yaitu G.S Hall (1844-1924) sarjana psikologi Amerika Serikat yang oleh
beberapa buku teks disebut sebagai Bapak Psikologi Remaja.
Petro Bloss (1962)
Proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap perkembangan remaja :
- Remaja Awal (Early Adolescene)
- masih heran pada diri sendiri
- mengembangkan fikiran baru
- cepat tertarik pada lawan jenis
- kurang kendali thd “ego” (sulit mengerti dan dimengerti orang lain)
- Remaja Madya (Midle Adolescene)
- membutuhkan kawan-kawan
- cenderung ”narcistic” (mencintai dirinya sendiri, suka dengan teman-teman yang memiliki sifat yang sama / mirip dengan dia)
- labil
- Remaja Akhir (Late Adolescene)
Masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian 5 hal berikut :
a. minat terhadap fungsi-fungsi intelektual
b. egonya mencari kesempatan bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru
c. identitas seksual tidak brubah lagi
d. egosentrisme diganti dengan keseimbangan anatara kepentingan sendiri dengan orang lai
e. tumbuh ”dinding” yang memisahkan diri pribadinya dan maayarakat umum
John Amos Comenius (1592-1670)
” Teori pendidikan yang berwawasan perkembangan jiwa yang didasarkan pada teori Psikologis Fakultas”
Pembagian tersebut adalah dalam 4 tahap, @ lamanya 6 tahun :
1. 0-6 tahun à pendidikan oleh ibu sendiri (mother school) untuk mengembangkan bagian dari jiwa (=fakultas) penginderaan dan pengamatan
2. 6-12 tahun à
pendidikan dasar (elementary education) sesuai dengan berkembangnya
fakultas ingatan (memory) dan diberikanlah dalam tahap ini
pelajaran-pelajaran bahasa, kebiasaan-kebiasaan sosial dan agama.
3. 12-18 tahun à
sekolah lanjutan (latin school) sesuai dengan berkembangnya fakultas
penalaran (reasoning). Pada tahap ini anak-anak dilatih untuk mengerti
prinsip-primsip kausalitas (hub. Sebab akibat) melalui pelajaran tata
bahasa, ilmu alam, matematika, etika, dialektika dan retorika.
4. 18-24 tahun à pendidikan tinggi (universitas) dan pengembangan(travel) untuk mengembangkan fakultas kehendak (faculty of will)
(R.E. Muss, 1968, hal.21-23)
Kurt Lewin
Tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu tdpt pada remaja :
- Pemalu dan perasa, tetapi cepat marah dan agresif sehubungan belum jelasnya batas-batas antara berbagai sektor di lapangan psikologik remaja.
- Ketidakjelasan batas-batas ini menyebabkan pula remaja terus-menerus merasakan pertentangan antara sikap, nilai, ideologi, dan gaya hidup
- Konflik sikap, nilai dan ideologi tersebut di atas muncul dalam bentuk ketegangan emosi yang meningkat.
- Ada kecenderungan pada remaja untuk mengambil posisi yang sangat ekstrim dan mengubah kelakuannya secara drastis, akibatnya sering muncul tingkah laku radikal dan memberontak di kalangan remaja.
- Bentuk-bentuk khusus dari tingkah laku remaja pada berbagai individu yang berbeda akan sangat ditentukan oleh sifat dan kekuatan dorongan-dorongan yang saling berkonflik di atas
(Muss, 1968, hal. 95)
BAB IV
PERKEMBANGAN PSIKOLOGIK REMAJA
Pembentukan Konsep Diri
Remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa.
Secara
psikologik kedewasaan adalah keadaan di mana sudah ada ciri-ciri
psikologik teretentu pada seseorang. Ciri-ciri psikologik itu menurut
G.W. Allpoert (1961, Bab VII) adalah :
- Pemekaran diri sendiri (extention of the self) :
- egoisme berkurang
- rasa memilliki meningkat
- mencintai orang lain dan alam sekitar
- kemampuan tenggang rasa
- Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (sel objectivication) :
- kemampuan mempunyai wawasan tentang diri sendiri (self insight)
- kemampuan untuk menangkap humor (sese of humor)
- tidak marah jika dikritik
- dapat mengevaluasi dir
- Memiliki filsafat hidup tertentu (unifying philosophy of life) :
- tidak mudah terpengaruh
- pendapat-pendapatnya dan sikapnya cukup jelas dan tegas
Menurut
Richmond dan Slansky (1984, hlm.110-111) inti dari tugas perkembangan
seseorang dalam periode remaja awal dan menengah adalah memperjuangkan
kebebasan. Sedangkan menemukan bentuk kepribadian yang khas (yang oleh
Allport dinamakan ”unifying philosophy of life”) dalam periode itu belum
menjadi sasaran utama.
Perkembangan Intelegensi
Intelegensi adalah -David Wechsler (1958)- :
Keseluruhan
kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta
mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Intelegensi
memang mengandung unsur fikiran atau ratio. Makin banyak unsur ratio
yang digunakan dalam suatu tindakan atau tingkah laku, makin
berintelegensi tingkah laku tersebut.
Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ (Intelligence Quotient).
Perhitungan :
Dengan
cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari berbagai soal
(hitungan, kata-kata, gambar-gambar dan lain-lain) dan menghitung berapa
banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar dan
membandingkannya dengan sebuah daftar (yang dibuat berdasarkan
penelitian yang terpercaya) maka didapatkanlah nilai IQ yang
bersangkutan.
Dengan
menyuruh mereka melakukan pekerjaan tetentu dan menjawab pertanyaan
tertentu (misalnya: menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama
hari atau bulan, membuka pintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain).
Jumlah pekerjaan yang bisa dilakukan anak kemudian dicocokkan dengan
membuat daftar untuk mengetahui usia mental (mental age = MA) anak.
Makin banyak yang bisa dijawab atau dikerjakan anak, makin tinggi usia
mentalnya. Usia mental ini kemudian dibagi dengan usia kalender
(callender age = CA) dan dikalikan 100, maka didapatkan IQ anak.
Rumus : IQ = MA/CA x 100
Teori intelegensi yang meninjaunya dari sudut perkembangan dikemukakan oleh Jean Piaget (1896-1980). Piaget berpendapat bahwa setiap orang mempunyai sistem pengaturan dari dalam pada sistem kognisinya. Sistem pengaturan ini terdapat sepanjang hidup sesorang dan berkembang sesuai dengan perkembangan aspek-aspek kognitif yaitu :
- Kematangan, merupakan perkembangan susunan syaraf shg misalnya fungsi-fungsi indera menjadi lebih sempurna.
- Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungannya.
- Transmisi sosial, yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial antara lain melalui pengasuhan dan pendidikan dari orang lain.
- Ekuilibrasi, yaitu sistem pengaturan dalam diri anak itu sendiri yang mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. (Gunarsa, 1982, hlm.140-141)
Sistem pengaturan mempunyai 2 faktor :
- Skema
Adalah pola yang teratur yang melatarbelakangi suatu tingkah laku.
- Adaptif
Adalah penyesuaian terhadap lingkungan yang bersangkut-paut dengan tujuan dan perjuangan hidup.
Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget adalah sebagai berikut (Gunarsa, 1982, hlm.146-161; Piaget, 1959, hlm.123)
- Tahap I : Masa sensori-motor (0-2.5 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya.
- Tahap II : Masa praoperasional (2.0-7.0 tahun)
Ciri khasnya adalah kemampuan menggunakan simbol, yaitu mewakili sesuatu yang tidak ada.
- Tahap III : Masa konkrit-operasional (7.0-11.0 tahun)
Sudah bisa melakukan berbagai macam tugas yang konkrit. Ia mulai mengembangkan 3 macam operasi berfikir, yaitu :
a. Identitas : mengenali sesuatu
b. Negasi : mengingkari sesuatu
c. Resiprokasi : mencari hubungan timbal baik antara beberapa hal
- Tahap IV : Masa formal-operasional (11.0-dewasa)
Dalam usia remaja dan seterusnya sesorang sudah mampu berfikir abstrak dan hipotetis.
Masa
remaja adalah masa yang penuh emosi. Salah satu ciri periode ”topan dan
badai” dalam perkembangan jiwa manusia ini adalah emosi yang
meledak-ledak, sulit untuk dikendalikan. Plato menyamakan emosi remaja
ini dengan ”api”. Di satu pihak emosi yang memnggebu-gebu ini memang
menyulitkan, terutama untuk orang lain (termasuk orang tua dan guru)
dalam mengerti jiwa si Remaja. Tetapi di lain pihak, emosi yang menggebu
ini bermanfaat untuk remaja itu terus mencari identitas dirinya.
Perkembangan Peran Sosial
Gejolak
emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebakan antara lain
oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri
sebagai orang dewasa, di lain pihak ia masih harus terus mengikuti
kemauan orang tuanya.
Konflik
peran yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan-kesulitan lain
pada masa remaja dapat dikurangi dengan memberi latihan-latihan agar
anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan
kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan
berkembang lebih mantap. Oleh karena ia tahu dengan tepat saat-saat yang
berbahaya di mana ia harus kembali berkonsultasi dengan orang tuanya
atau dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari dirinya sendiri.
Perkembangan Peran Seksual
Ada 4 macam manusia ditinjau dari peran seksualnya, yaitu :
- Tipe maskulin, yaitu yang sifat kelaki-lakiannya di atas rata-rata, sifat kewanitaannya kurang dari rata-rata.
- Tipe feminin, yaitu yang sifat kewanitaannya di atas rata-rata, sifat kelaki-lakiannya kurang dari rata-rata.
- Tipe androgin, yaitu yang sifat kelaki-lakian maupun kewanitaannya di atas rata-rata.
- Tipe tidak tergolongkan (undiferentiated), yaitu yang sifat kelaki-lakiannya maupun kewanitaannya di bawah rata-rata.
(Wrightsman, 1981, hlm.445)
Perkembangan Moral dan Religi
Religi
yaitu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam
semesta ini adalah sebagian dari moral, sebab dalam moral sebenarnya
diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan suatu
perbuatan yang dinilai tidak baik sehingga perlu dihindari. Agama,
oleh karena mengatur juga tingkah laku baik-buruk, secara psikologik
termasuk dalam moral. Hal lain yang termasuk dalam moral adalah
sopan-santun, tata krama, dan norma-norma masyarakat lain.
Kohlberg membagi perkembangan moral dalam 3 tahap yang masing-masing dibagi lagi dalam 2 tingkatan :
- Tahap I (tingkat 1 dan 2) : Tahap Prakonvensional
Tingkat 1 à pedoman mereka hanyalah hindari hukuman
Tingkat 2 à sudah ada pengertian bahwa untuk memenuhi kebutuhan sendiri, seseorang juga harus memikirkan kepentingan orang lain.
- Tahap II (tingkat 3 dan 4) : Tahap Konvensional
Setuju
pada aturan dan harapan masyarakat dan penguasa, hanya karena memang
sudah demikianlah keadaannya. Terjadi pada remaja dan sebagian besar
orang dewasa.
- Tahap III (tingkat 5 dan 6) : Tahap Pasca Konvensional
Terjadi
pada sebagian orang dewasa. Tahap ini mendasarkan penilaian mreka
terhadap aturan dan harapan masyarakat pada prinsip-prinsip moral umum.
Tingkat 1 à kontak sosial atau hak individu
Tingkat 2 à prinsip etika universal
(Lickona, 1975, hlm. 32-33)
BAB V
REMAJA SEBAGAI SUBKULTUR
Masyarakat Transisi
Masyarakat transisi dalam istilah J. Useem dan R.H. Useem dinamakan ”modernizing society”. Masyarakat
ini adalah masyarakat yang sedang mencoba untuk membebaskan diri dari
nilai-nilai masa lalu dan menggapai masa depan dengan terus menerus
membuat niali-nilai baru atau hal-hal baru.
Menurut
Emile Durkheim, keadaan masyarakat transisi akan membawa individu
anggota masyarakat kepada keadaan ’anomie’. Anomie menurut Durkheim
adalah ”normlessness” yaitu suatu sistem sosial dimana tidak ada
petunjuk atau pedoman buat tingkah laku. Jadi adalah keadaan ekternal
seperti dalam keadaan hukum rimba yang terdapat dalam masyarakat yang
tiba-tiba dilanda perang. Kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang
biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah
”individulaisme” dimana individu-individu bertindak hanya menurut
kepentingannya masing-masing (Durkheim, 1951)
Kondisi anomie ini tentu saja tidak hanya berlaku terhadap anggota masyarakat dewasa, melainkan juga terhadap para remaja.
Merton
selanjutnya menyatakan bahwa anomie juga menunjuk pada manusia yang
”ambivalent” (tidak jelas nilai yang dianutnya) dan ”ambigous” (tidak
jelas bentuk kelakuannya) dalam masyarakat yang juga tidak konsisten
(Merton,1957). Akibatnya memang ada manusia-manusia yang bertingkah laku
konform, yaitu menerima nilai (oleh Merton diartikan sebagai tujuan
umum dari suatu kebudayaan) dan norma (artinya aturan-aturan khusus dari
lembaga masayarakat tertentu). Remaja-remaja yang menerima apa saja
yang dikatakan orang tua mereka untuk mencapai gelar sarjana adalah
contoh dari jenis konform ini.
Akan
tetapi selanjutnya Merton mengatakan bahwa disamping mereka yang
bersikap konform terhadap nilai dan norma, ada orang-orang yang
menentang (bertingkah laku ”deviant” atau menyimpang) nilai atau norma
itu atau kedua-duanya.
Tingkah laku menentang digolongkan ke dalam 4 jenis (Merton) :
- ”innovation”
Yaitu tingkah laku yang menyetujui nilai tetapi menentang norma. Akibatnya bisa negatif dan positif.
- ”Ritualism”
Yaitu tingkah laku yang menolak nilai-nilai tetapi menerima norma.
- ”Retreatism”
Yaitu
pengingkaran terhadap nilai maupun norma. Bentuk reaksinya adalah
pelarian-pelarian dari nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
- ”Rebellion”
Yaitu
pemberontakan, menolak nilai-nilai dan norma-norma yang ada tapi
mengadopsi nilai-nilai dan norma-norma yang lain yang berasal dari luar
masyarakatnya.
Remaja Sebagai Anggota Keluarga
WAR (World of Abnormal Rearing)
Definisi : kondisi
dimana lingkungan tidak memungkinkan anak untuk mempelajari
kemampuan-kemampuan yang paling dasar dalam hubungan antar manusia
(Kempe & Helfer, 1980, hal.38).
Ciri-ciri WAR (diantaranya) :
- Anak dipukuli (pada sebagian keluarga WAR)
- Anak disalahgunakan secara seksual (misalnya dijadikan korban incest atau dipaksakan kawin pada usia masih kanak-kanak, ini pun hanya pada sebagian keluarga WAR)
- Anak tidak dperdulikan (ini lebih banyak terjadi)
- Anak dianggap seperti anak kecil terus atau dianggap tidak berarti (paling banyak terjadi)
Akibat WAR : anak-anak menjadi terkekang sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik di luar rumah sendiri.
Secara sosiologis, faktor-faktor yang ada kaitannya dengan penelantaran dan penyalahgunaan anak ini menurut Wolf (1981) adalah sebagai berikut :
- Tidak terpantau tetangga, karena cenderung terisolasi (dalam masyarakat modern).
- Kepentingan bersama anak dan orang tua makin lama makin melemah sehingga makin banyak pasangan suami-istri yang tidak ingin mempunyai anak dan kalau ada anak di rumah mudah timbul sikap negatif pada anak-anak.
- Anggota-anggota keluarga makin jarang di rumah.
- Anak menjadi objek dari ambisi-ambisi pendidikan.
- Tekanan ekonomi dan mereka tidak dapat keluar dari sana.
Remaja di Sekolah
Faktor
yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana pendidikan saja,
tetapi lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya.
Remaja dalam Masyarakat
Masyarakat
sebagai lingkungan tertier (ketiga) adalah lingkungan yang terluas bagi
remaja dan sekaligus paling banyak menawarkan pilihan. Terutama dengan
maju pesatnya teknologi komunikasi massa maka hampir-hampir tidak ada
batas-batas geografis, etnis, politis, maupun sosial antara satu
masyarakat dengan masyarakat lain. Istilah, gaya hidup, nilai dan
perilaku dimasyarakatkan melalui media massa ini, pada gilirannya remaja
akan dihadapkan kepada berbagai pilihan yang tidak jarang menimbulkan
pertentangan batin di dalam remaja itu sendiri. Pertentangan batin itu
bisa berupa ”konflik” (menurut istilah Kurt Lewin) yang ada beberapa
macam jenisnya (Sarlito, 1986), yaitu :
- Konflik mendekat-mendekat : dimana ada dua hal yang sama kuat nilai positifnya, tapi saling bertentangan.
- Konflik menjauh-menjauh : dimana ada dua hal yang harus dihindari akan tetapi tidak mungkin keduanya dihindari sekaligus.
- Konflik mendekat-menjauh : yaitu jika suatu hal tertentu sekaligus mengandung nilai posistif dan negatif.
Langganan:
Postingan (Atom)


